Menolak Film Dilan 1991
Siapa
yang masih asing dengan film yang satu ini? tentu sebagian besar warga tanah air telah
mengenal dengan film bergenre romantisme ini. Setelah berhasil membius penonton
dengan series pertamanya yakni Dilan 1990, kali ini Dilan 1991 juga tak kalah
mengundang antusiasme warga tanah air. Fajar Bustomi selaku sutradara Film
Dilan 1991 mengungkapkan bahwa dia
senang atas hasil yang diraih film ini hingga memecahkan rekor jumlah penonton
terbanyak di Indonesia (sumber: kupang.tribunnews.com). Kesederhanaan cerita
yang dibangun dirasa cukup sukses dalam memanjakan hati para penontonnnya. Singkat
cerita film ini mengisahkan tentang gadis bernama Milea, seorang siswi SMA yang
baru saja pindah dari Jakarta dan menetap di Bandung. Saat Milea pergi menuju
sekolahnya, dia bertemu dengan laki – laki yang suka meramal, Dilan namanya.
Laki – laki ini meramal pada Milea bahwa suatu hari nanti mereka berdua akan
bertemu di kantin sekolah. Sikap Milea yang tadinya acuh karena ramalan Dilan
yang membuatnya rishi kian lama kian luntur, dan Milea pun mulai membuka
hatinya untuk Dilan. Tak lama kemudian mereka menjalin hubungan namun tidak
berumur panjang karena salah satu dari mereka telah memiliki kekasih baru dan
melangsungkan pernikahan. Beginilah sinopsis singkat dari film yang
disutradarai Fajar Bustomi ini. Ternyata, dibalik antusiasme masyarakat yang
mengagumi film ini, ada sebagian masyarakat yang kontra terhadap isi ceritanya.
Bagi sebagian kecil masyarakat, film Dilan 1991 tidak layak untuk ditanyangkan,
sebab mengandung adegan tidak memuliakan guru dan kekerasan yang dilakukan oleh
geng motor. (sumber: viva.co.id).
Masyarakat
kecil yang dimaksud disini adalah warga Makassar. Mereka adalah sejumlah
mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai Mahasiswa Merah Putih (Kompi)
Sulawesi Selatan dengan melakukan aksi unjuk rasa di sejumlah bioskop yang ada
di Makassar hingga merusak fasilitas yang ada. Alasannya, bahwa film ini
dikhawatirkan akan meningkatkan sejumlah kekerasan dalam dunia pendidikan.
Namun, pihak produksi Film sendiri merespon bahwa apa yang telah masyarakat
tuduhkan tidak akan berbuah apa – apa, sebab film ini telah dinyatakan lulus
sensor oleh Lembaga Sensor Film Indonesia. Bila kita kaji lebih dalam lagi, terlihat
di beberapa adegan menayangkan aksi sejumlah geng motor disertai tawuran yang
saling menyerang. Tidak hanya itu terdapat adegan Dilan yang melawan guru.
Kondisi ini, secara tidak langsung
memberikan contoh yang dinilai kurang baik bagi golongan pemuda, dimana pemuda
saat ini sangatlah sensitif terhadap hal – hal yang dirasa kurang begitu baik
sehingga mereka akan cepat untuk mengimitasi. Selain itu, anak – anak dibawah
umur belakangan ini banyak yang menjadi viral karena aksi mereka menirukan
adegan pasangan kekasih yang sering kita jumpai di sinetron maupun film layar
lebar. Jika sudah begini, kita mau menyalahkan siapa? Tentu dalam masalah ini
semua ikut terlibat dalam kesalahan, yang pertama orang tua mungkin terlalu
memberikan keleluasaan kepada mereka untuk menonton konten – konten yang dirasa
belum cukup dengan usianya, terlebih belakangan ini begitu mudah menemukan hal
– hal yang dapat menjerumuskan perilaku anak ke arah yang salah. Kedua,
kelompok bermain dan lingkungan yang kurang memberikan kesan baik terhadap
perkembangan anak sehingga sekali mereka terjun ke lingkungan tersebut secara
otomatis anak akan mudah untuk mengadaptasikan diri serta menanamkan nilai –
nilai yang ada di lingkungan tersebut dengan cepat. Ketiga, media hiburan
seperti youtube, instagram, line, sinetron, film layar lebar, dan lain sebagainya
yang dirasa cukup mudah bagi anak untuk mendapatkan apa yang belum mereka
ketahui, lewat tayangan – tayangan yang ada di media tersebut. Sedangkan pada
sosiologi dijelaskan, bahwa tahap sosialisasi dalam pembentukan kepribadian
anak yakni play stage, dimana mereka mulai mampu menirukan beberapa peran orang
dewasa secara sempurna (sumber: pengetahuansocial.com).
Setelah
melihat beberapa ulasan mengenai film Dilan 1991 serta mengkaji dari berbagai
aspek, kita dapat mengetahui bagaimana dalam memilih dan memilah film yang
layak untuk dinikmati terutama bagi kalangan anak muda. Tidak hanya sekedar terbawa
oleh jalan cerita yang menyuguhkan hati, melainkan lebih kepada bagaimana nilai
yang dikandung pada film tersebut. Apakah telah sesuai dengan nilai keluhuran
bangsa atau tidak? Sehingga, tidak akan ada lagi aksi – aksi yang dilakukan oleh
anak muda dalam upaya mencari kejatian diri mereka melalui tingkah laku yang seharusnya
tidak dilakukan. Dari berbagai aspek pertimbangan ini, Lembaga Lulus Sensor
seharusnya lebih selektif dalam meluluskan karya hiburan tanah air supaya lebih
pantas dan sesuai dengan kepribadian Bangsa Indonesia. Sebagaimana telah diatur
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2004 pasal 29 tentang pedoman
penyensoran disebutkan bahwa salah dua penyensoran dilakukan meliputi isi film
maupun iklan film harus bersih dari unsur kekerasan, melecehkan harkat, dan
martabat manusia. Dengan ini telah jelas bahwa Lembaga Sensor Film Indonesia
belum sepenuhnya berpedoman pada peraturan yang telah dibuat oleh pemerintah
maupun Undang – Undang Dasar 1945.
Adinda Dhafa Nona
Komentar
Posting Komentar