Mata Pelajaran Memenjarakan Anak

Mengingat pendidikan sebagai alat dalam pergerakan kemajuan suatu bangsa, sudah semestinya kita mulai menyiasati mata pelajaran apa saja yang dibebankan pada Sekolah Dasar yang sasarannya pada anak usia dini. Seperti yang sudah kita tahu, pendidikan bangsa ini belum sepenuhnya baik – baik saja, bahkan pergantian kurikulum pun sudah seenaknya diubah dalam jangka waktu yang relatif singkat. Padahal, keberhasilan pendidikan dapat dilihat bukan dalam jangka waktu 10-15 tahun, melainkan minimal 50 tahun kita dapat menilai suksesnya pendidikan. Kenyataanya, di negara ini perubahan kurikulum mudah – mudah saja untuk diperbaharui, padahal pelaku dalam pendidikan sendiri belum sepenuhnya berhasil memahami tujuan dan prospek yang dibuat. Lebih parahnya lagi, ketika pelaku pendidikannya adalah anak – anak usia dini tentu perubahan kurikulum dalam waktu yang singkat bukan merupakan solusi dalam perbaikan atmosfir pendidikan. Mereka dituntut untuk memahami pelajaran yang bukan semestinya mereka dapatkan, dipaksa untuk terampil dalam pelajaran eksak, dan dihimbau untuk cepat tanggap dalam penyampaian materi yang ada. Bahkan orang tua pada zaman milenial ini, lebih mengedepankan gengsi apabila sang anak tak sejalan dengan apa yang mereka inginkan, terlebih mereka akan berusaha memberi tambahan jam belajar melalui pendidikan non formal yang kurang begitu potensial. Kondisi ini akan memicu stress pada anak yang bisa saja menurunkan semangat anak dalam belajar, sebab mereka sudah didoktrin oleh tuntutan – tuntutan dari orang tuanya.
Bila kita tidak bisa memperbaiki mindset orang tua yang demikian, mengapa kita tidak mulai memperbaiki dalam internal pendidikannya sendiri ? misal dalam kebijakan pendidikan yang ada. Sejauh ini, kita sudah cukup paham dalam pelajaran yang dibebankan pada Sekolah Dasar. Anak yang semestinya diberi kebabasan dalam berkarya, berimajinasi, bermain dalam pola pikirnya nyatanya sudah dibatasi dengan pelajaran yang ditekankan padanya. Mereka akan cenderung menjadi anak yang sulit berkembang dalam segi logika, dimana hal ini merupakan nilai minus dari tuntutan di sekolahnya yang telah menghantui pola pikirnya. Seharusnya, para pemangku kebijakan menelaah lebih dalam lagi terkait pelajaran yang diberikan pada usia yang begitu rentan akan pendidikan formal yang diberikan. Lebih disesuaikan lagi terkait perekembangan otak mereka yang tidak bisa disamaratakan, tidak juga terlalu memaksa dengan porsi materi yang dibebankan, intinya hanya yang tidak terlalu berat untuk dapat diterima oleh mesin memori mereka. Bahwa, dalam ilmu juga banyak  disebutkan, janganlah anak terlalu banyak dituntut dengan keinginan - keinginan yang kita damba - dambakan, biarlah mereka membebaskan pemikiran mereka terlebih dahulu melalui pengenalan alam dan lingkungan yang dikenalinya barulah kita mulai memberikan sedikit demi sedikit ilmu terapan melalui pengaplikasian dengan benda ataupun dengan media yang lain. Dengan begitu anak akan mudah memahami dan mengonsep kedalam memori mereka sesuai dengan caranya masing – masing.
Melalui mudahnya pemahaman mereka dalam menangkap memori, justru itu dapat memudahkan pihak yang akan menyumbangkan kekuatan kedalam memori mereka, sebab perkembangan otak mereka jauh lebih siap dibandingkan dengan pemberian beban memori yang sedikit memaksa. Dalam hal ini, kita tidak sepenuhnya menyalahkan para birokrat dengan kebijakan yang ada, tentu sebuah kebijakan yang dibuat terdapat sisi negatif dan positifnya, salah satunya adalah segi negatif yang sudah dibahas sebelumnya. Bila kita ingin memahami nilai plus, apa saja yang didapat dalam kebijakan yang ada tersebut ? tentu tidak sedikit plus yang didapat, misalnya saja usaha perkembangan mindset yang diharapkan oleh negara agar generasi saat ini lebih berfikir kritis yang membangun untuk negara ini, terlebih kita sebagai cikal bakal dalam meluruskan kondisi pendidikan yang ada dan sedikit demi sedikit memperbarui secara pelan dan tertata agar lebih jelas lagi hasil yang nantinya akan didapat beberapa tahun kedepan. Tak lupa, Indonesia mencanangkan menjadi negara yang akan secepatnya melangkah menjadi negara maju yang didalamnyua banyak sekali aspek yang harus diperhatikan. Jadi, tidak salah pendidikan dijadikan sebagai jaminan dalam kemajuan suatu bangsa, oleh karenanya banyak sekali perhatian lebih terhadap aspek ini karena apabila ada cacat sedikit para pemangku kebijakan tidak segan – segan dalam memperbaiki kurikulum. Pendidikan yang salah tekhnis bukan hanya menimbulkan pro dan kontra yang ada, muncul juga kekeliruan yang dapat berakibat kepincangan keterampilan, gangguan emosional terhadap pelaku pendidikan seperti rendah diri, sombong, keras kepala, dan sebagainya. Penanggulangan yang terjadi akibat kekeliruan ini dapat diperbaiki melalui jalan tentang cara mendidik dan lingkungan hidup yang sehat, serta pemberian penyuluhan yang tepat. Asalkan dengan pihak – pihak yang bersangkutan dapat bersinergi menjadi satu dalam rangka pengoptimalan kembali kesalah tekhnis pendidikan yang terjadi.
            Untuk dapat meminimalisai kekeliruan yang ada dalam pendidikan, sudah seharusnya pendidik telah mampu memahami tugas dan kewajibannya dalam mendidik. Sebab, mereka yang sudah cukup matang akan tugas yang diembannya, tentu mereka akan berpikir kembali dalam pemberian materi yang terkesan terlalu memaksa dengan usia – usia pelaku pendidikan yang beragam. Sedangkan, suatu cara dikatakan tidak tepat apabila cara yang dipergunakan tidak dapat mencapai tujuan pendidikan yang disudah dikonsep. Lalu bagaimana cara yang lain yang dapat menjawab peminimalisasi mata pelajaran yang kurang efektif yang ada di bangku Sekolah Dasar ? serinci mungkin, sebelum menetepkan kurikulum yang ada dipilah secara khusus terhadap mata pelajaran yang terkesan belum waktunya diberikan kepada usia rentan seperti anak – anak yang seharusnya mereka dapat berimajinasi dan bebas dalam mengenal lingkungannya harus sudah dipaksa memahami materi yang diberikan tenaga pendidik di sekolah. Bukannya meluapnya kuantitas pelajaran dapat membuat mesin memori kita tidak dapat bekerja secara optimal karena harus automatis mengalihkan segala bentuk kematerian yang dibutuhkan. Sehingga, tak dapat dipungkiri kerja otak akan terkesan lama dalam mengingat sesuatu karena overloadnya kapasitas memori yang ada.



Adinda Dhafa Nona

Komentar