Guru Pilih Kasih
Seperti yang sering
kita lihat, kejanggalan – kejanggalan yang ada dalam pendidikan sungguh
mencengangkan. Mulai dari masalah serius hingga yang biasa – biasa saja namun
menyita banyak perhatian dari pihak siswa sendiri. Sebut saja contohnya para
pendidik sering menyalahgunakan simpati mereka pada anak didiknya, dalam artian
disini adalah “ guru pilih kasih terhadap muridnya”. Pendidikan dalam arti sesungguhnya ialah
suatu wadah dimana mendoktrin nilai – nilai kebangsaan dan pengetahuan kepada
para pemuda negara agar mereka memiliki bekal sebagai pijakan dari yang namanya
kesuksesan dunia. Namun, banyak sekali para pendidik sering menyalahgunakan
kesempatan ini. Bagi golongan guru yang kekinian adalah anak pintar diangggap
sebagai anak yang cepat tanggap dalam kemampuan akademiknya, mereka menilai
para anak didiknya harus bisa memahami berbagai materi yang disajikan dengan
baik menurut keinginan mereka. Tanpa mereka paham sesungguhnya setiap individu
tidaklah sama dalam menangkap memory, dan yang sering terjadi bawasannya murid
yang baik dalam keakademikan selalu di sanjung - sanjungkan, berbeda dengan
murid yang jalannya pelan dalam mencerna materi. Ini, problema yang harus
diselesaikan di negara ini.
Paradigma
tenaga pendidik dalam tahun – tahun terakhir ini perlu diubah, dan tentunya
membutuhkan waktu yang cukup lama, minimal 50 tahun barulah kita bisa
menyeterilkan kebijakan pendidikan yang baru untuk anak cucu kita nanti.
Mengapa saya katakan demikian ? sebab saya sudah merasakan pendidikan di
sekolah selama 12 tahun, dan mulai tersadar bahwa pendidikan yang saya dapat
ini tidak baik –baik saja. Kesempatan yang saya punya saat ini sebagai
mahasiswa adalah mengoreksi kejanggalan
yang terjadi dalam pendidikan. Salah satu contoh yang saya sebutkan di atas,
guru berpilih kasih terhadap murid yang brilian dalam akademik, dan tidak
menutup kemungkinan tenaga pendidik mengesampingkan murid yang masih dalam
kondisi merangkak yang seharusnya dituntun bersama dengan murid yang lain untuk
maju ke kemampuan yang sebenarnya bukan malah di labelling dirinya yang tak
bisa apa – apa atau dalam bahasa umumnya adalah bodoh. Sesak sekali bila kita
berada pada posisi murid yang dibiarkan merangkak sendiri, apalagi bila orang
tuanya mengetahui ternyata anaknya tidak diberi kesempatan belajar dengan adil
dan bijaksana.
Bingung
sesekali, diberi penegasan seperti apa tenaga pendidik yang selektif seperti
ini?. Pimpinan pun jelas tidak tahu pastinya kondisi pada saat dikelas, mereka
disibukkan dengan kekuasaan yang merongrong kewibawaan mereka. Apa boleh buat
orang kecil sepeti kami? Kalau bukan mahasiswalah yang dulunya barangkali
pernah menjadi korban pendidikan yang tidak sepantasnya didapat, untuk berani
mengaspirasikan suara rakyat kecil yang sama sekali tidak punya delegasi untuk
berpendapat?. Ayolah sekali – kali penguasa mendengar kritik, bukankah di
sekolah dulu diajarkan bahwa manusia yang tidak mau di kritik itu sama halnya
dengan makhluk yang egois? Mereka terlalu asyik
berbangga diri dengan sayap kekuasaanya tanpa mau mendengar sekecap kata
pun dari kami rakyat kecil.
“ Hidup Tanpa
Pendidikan Sama Halnya Bisu, Begitu Pula Pendidikan bila Tidak Hidup adalah
Tabu “
Adinda Dhafa Nona
Komentar
Posting Komentar