Dia
23 November tahun 1990an bayi perempuan lahir dari rahim pilihan-Nya. Tangisan sumringah nan lega terpancar dari paras sang bunda, ayah, dan sanak saudara. Lahirnya perempuan ini pada keluarga besar Sus sangat disambut spesial, karena kebetulan, bayi ini adalah cucu pertama dari keluarga Sus. Dengan lahirnya bayi ini, keharmonisan keluarga Sus makin rekat dan kompak. Apapun bila kaitannya dengan perkembangan bayi, sudah tidak perlu dipikir berkali - kali yang penting harus maksimal dalam merawat si bayi perempuan ini. Masa demi masa ia tumbuh menjadi anak yang pemalu bila berinteraksi dengan orang lain bahkan dengan orang tuanya sendiri. Itu akibat pengasuhan sejak dini, Dia tidak diasuh oleh orang tuanya melainkan oleh nenek kakek mereka atau lebih tepatnya Bapak Sus dan istrinya. Hal ini membuat Dia haus akan hak seorang anak dari sepasang orang tua, yang membuat kemampuan kasih sayangnya tak tersampaikan secara maksimal pada orang tua begitupun sebaliknya. Tahun demi tahun Dia tumbuh menjadi belia yang dibilang cukup ceria mungkin karena lingkungan sekundernya yang begitu dominan dalam perkembangan dirinya dibanding dengan lingkungan primernya. Namun, kesenjangan pada orang tua yang Dia alami tidak membuatnya untuk melampiaskan segala kekurangan afektifnya pada pergaulan yang salah sasaran. Menurutnya, Dia sudah cukup mapan oleh pengasuhan dari orang tua walaupun tidak secara fisik (langsung) orang tua mengasuhnya. Di sisi lain, Dia merasakan sekali kecemburuan bila melihat anak lain begitu dekat dengan orang tua mereka, mengapa Dia tidak mendapatkan hal yang sama? Ya, tentu itu semua kembali pada takdir. Tuhan tidak pernah menakdirkan seseorang kecuali untuk yang paling baik bagi makhluk-Nya, itulah yang dipegang teguh oleh Dia saat ia merasakan kecemburuan dan sebagainya disamping melihat kedekatan anak lain dengan sepasang orang tuanya. Tentu Dia tidak lupa dengan orang yang selama ini mengasuhnya, Nenek dan Kakek. Dia begitu menyayangi meraka sama seperti Dia menyayangi orang tuanya, tidak ada porsi lebih diantara kedua pasang orang penting ini dalam hidupnya, semua rata mereka sama - sama orang terbaik yang setia menemani masa hidupnya. Sayangnya, saat Dia berumur sudah cukup dewasa ia rasa perhatian dari sepasang orang tuanya ini sudah tidak lagi sama saat ia dulu masih kecil. Wajar sebenarnya karena memang tahap kedewasaan sudah tidak butuh lagi perhatian lebih untuk si anak, tapi tidak menutup kemungkinan kabar Hai masih tetap terjaga lewat media perantara. Hal ini terkadang membuat Dia semakin bertanya - tanya pada dirinya, begitukah bila anak sudah cukup dewasa tidak perlu diberi asuhan yang extra layaknya seorang bayi? Lalu, bagaimana orang tuanya memberi waktu lebih untuk memerhatikan perkembangannya secara langsung sebagai ganti dari kekurangan yang masih belum meraka luangkan ketika Dia masih kecil? Kurasa sudah tidak perlu lagi. Mereka cukup yakin pada Dia bahwa ia akan mandiri dan baik - baik saja. Tentu Dia cukup bangga dengan kepercayaan yang diberikannya itu. Kembali pada anak yang haus akan kasih sayang dari orangtuanya, dimana - mana meraka akan terpojokkan oleh nafsu kasih sayang non materi yang selalu terngiang - ngiang di benak mereka. Apakah orangtua juga sadar akan yang dirasakan olehnya? Kurasa belum begitu. Sesuai dengan pribadi Dia yang anaknya dibilang cukup bisa membawa keadaan menjadi ramai dan seru, membuat kejanggalan - kejanggalan yang ada di hatinya dapat tertupi. Disamping itu juga lingkungan sekundernya sangat mendukung untuk mengalihkan perhatian pada masalah pribadinya. Sebenarya, kurang sentuhan dari orang tuanya bukanlah masalah utama yang dialami, melainkan tentang bagaimana sepasang orang tuanya sadar bila si Dia ini butuh yang namanya rasa empati lebih dari mereka.
Masuk 23 November tahun ke-18, Dia tepat berusia 18 tahun. Tentu pikiran dan hati Dia semakin luas dan berkembang, sudah tidak memperdulikan lagi yang namanya kurang asuhan dari orang tua dan sebagainya. Pikirannya sudah growth mindset, sudah terbuka dan lateral, jadi sudah minim sekali Dia memikirkan hal - hal yang dibilang cukup kekanak - kanakan tentang masalah kasih sayang. Sudah saatnya dia memikirkan 5 atau 7 tahun kedepan Dia akan merencanakan hidup yang seperti apa dan bagaimana, yang nantinya juga kembali untuk kedua orang tuanya. Tak disangka - sangka, Dia sudah memasuki masa lepas remaja dan mulai menuju bangku perkuliahan. Dari situ, hati dan pikirannya kian berkembang lagi, dan mulai mengesampingkan keegoisannya tentang apa yang selama ini dirasakan selama 18 tahun, sudah acuh terhadap sesuatu yang menurutnya tidak ada feedback yang didapat. Tentunya gadis ini sudah siap menuju kedewasaan dalam berkontribusi dengan lingkungan sekitar terutama orang - orang yang baru dikenalnya. Mulai komitmen terhadap apa yang sudah direncanakan sebelum - sebelumnya, sudah bukan lagi pribadi yang pemalu, dan belajar melupakan sejarah yang dia rasa cukup mengganjal. Alhasil, sejauh ini Dia sudah memasuki tahap life plan yang pertama, dimana ia pernah menuliskan untuk tahun pertama kuliah harus sudah mengikuti berbagai kegiatan kampus bahkan kepanitiaan sekalipun.
Oleh : Adinda Dhafa Nona
Masuk 23 November tahun ke-18, Dia tepat berusia 18 tahun. Tentu pikiran dan hati Dia semakin luas dan berkembang, sudah tidak memperdulikan lagi yang namanya kurang asuhan dari orang tua dan sebagainya. Pikirannya sudah growth mindset, sudah terbuka dan lateral, jadi sudah minim sekali Dia memikirkan hal - hal yang dibilang cukup kekanak - kanakan tentang masalah kasih sayang. Sudah saatnya dia memikirkan 5 atau 7 tahun kedepan Dia akan merencanakan hidup yang seperti apa dan bagaimana, yang nantinya juga kembali untuk kedua orang tuanya. Tak disangka - sangka, Dia sudah memasuki masa lepas remaja dan mulai menuju bangku perkuliahan. Dari situ, hati dan pikirannya kian berkembang lagi, dan mulai mengesampingkan keegoisannya tentang apa yang selama ini dirasakan selama 18 tahun, sudah acuh terhadap sesuatu yang menurutnya tidak ada feedback yang didapat. Tentunya gadis ini sudah siap menuju kedewasaan dalam berkontribusi dengan lingkungan sekitar terutama orang - orang yang baru dikenalnya. Mulai komitmen terhadap apa yang sudah direncanakan sebelum - sebelumnya, sudah bukan lagi pribadi yang pemalu, dan belajar melupakan sejarah yang dia rasa cukup mengganjal. Alhasil, sejauh ini Dia sudah memasuki tahap life plan yang pertama, dimana ia pernah menuliskan untuk tahun pertama kuliah harus sudah mengikuti berbagai kegiatan kampus bahkan kepanitiaan sekalipun.
Oleh : Adinda Dhafa Nona
Komentar
Posting Komentar